Pudar Wangi Pierre Cardin Bag7

Apalagi, menurut majelis hakim, Alexander selalu mencantumkan label ”buatan Indonesia”. Majelis hakim kasasi malah mempertanyakan gugatan unsur ”terkenal” yang disodorkan Pierre Cardin Paris. Hakim tak mempertimbangkan popularitas Pierre Cardin ketika perkara ini disidangkan. Sebaliknya, hakim berpegang pada klaim Alexander bahwa merek ”Pierre Cardin” telah didaftarkan di Kementerian pada 1977.

Menurut hakim, pada tahun-tahun itu merek ”Pierre Cardin” belum terkenal di Indonesia. Suara hakim kasasi tidak bulat. Hakim anggota Nurul Elmiyah menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion) dari ketua majelis hakim Mahdi Sororinda Nasution dan hakim anggota Hamdi. Menurut Nurul, Pierre Cardin merupakan merek yang sudah sangat terkenal di dunia, bahkan jauh sebelum barang dengan merek itu masuk ke Indonesia.

Membangun Sikap Asertif Bag2

Sedangkan anak yang bersikap asertif, saat diejek ia akan berkata, “Ya, sepatu ini mungkin kurang keren, tapi aku suka, kok!” Dengan memiliki sikap asertif, anak mampu merespons dengan tepat pada setiap hal yang dihadapinya. Anak yang cenderung easy going dan selalu berpikir “everything is going well” memang kadang menenangkan. Setidaknya anak tidak mudah cranky, ribut, atau rewel.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Namun, ketika ia terlibat dalam situasi tidak nyaman dan harus memperjuangkan haknya, maka ia juga harus mampu bersikap asertif. Misal, saat mainannya direbut, alih-alih memintanya kembali, anak lebih memilih mainan yang lain. Padahal, ia boleh kok meminta kembali mainannya de ngan cara baik-baik, dengan berkata, “Itu mainanku, kamu boleh pinjam mainan itu, tapi setelah aku selesai bermain.” Dengan bersikap asertif, anak tahu apa yang menjadi kebutuhannya dan bagaimana memenuhi kebutuhan dirinya, tanpa merugikan orang lain.

Memang untuk mengajarkan sikap demikian susah-susah gampang, apalagi untuk anak prasekolah. Namun, kita tetap bisa mengajarinya dengan menjadi panutan dan tentu, mengajari anak secara langsung. PERAN ORANGTUA Orangtua dapat menunjukkan contoh bersikap asertif dalam keseharian, mulai saat ngobrol dengan anggota keluarga, teman, rekan kerja, berhadapan de ngan salesman, dan seterusnya. Anak merekam dalam ingatan semua perilaku yang ia lihat dari orangtuanya, dan kemudian menirukannya. Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak tip berikut. ¦ Kita juga harus asertif.

Saat kita terbiasa mengutarakan apa yang kita rasakan kepada pasangan atau anak di rumah, anak belajar mengekspresikan perasaan dan keinginan adalah wajar dan boleh dilakukan. Kita bisa menyampaikan pada anak, perasaan senang dan bangga saat ia berhasil makan sendiri adalah wajar, sama dengan rasa kecewa ketika anak menangis karena keinginannya tidak terpenuhi. ¦ Berikan anak kesempatan untuk ikut urun rembuk dalam diskusi keluarga, misal, dengan menentukan menu harian atau rencana akhir pekan. Bantu anak memperkuat pendapatnya, dengan menyatakan persetujuan atau mungkin memberikan saran lain terkait pendapatnya. Contoh, saat anak memberi nama binatang peliharaan.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Oray-orayan Tisna Bag2

Tiga pria lalu membuka semua pakaian mereka, kecuali celana pen dek, lalu berbaring dalam pose berbedabeda di atas kanvas. Para penari yang terus bergerak mengitari kanvas kemudian melemparkan serbuk-serbuk dari dalam lesung ke atas kelambu, jatuh ke atas tubuhtubuh meringkuk itu. Terciptalah lukisan tubuh dengan tekstur dan warna alami: hitam, cokelat, kuning, dan putih.

Seni karuhun atau seni nenek moyang, begitu Tisna menyebut pertunjukan yang jadi pembuka pameran bertajuk ”Siklus Abu” itu. Tisna membawa berbagai hasil bumi ke ruang pameran. Rempah-rempah, beras, jagung, ubi, pisang, dan kacang ia pamerkan. Begitu pula hasil kerajinan tangan seperti nyiru, wadah nasi, dan kipas dari anyaman bambu.

Siap-siap Konsultasi Pertama

Setelah test pack membawa kabar gembira, konsultasi pertama kehamilan adalah langkah selanjutnya. Apa saja yang perlu dipersiapkan? ‘ LANGKAH 1: MENENTUKAN DOKTER OBGIN TERBAIK BAGI MAMA Inilah salah satu pertanyaan yang kerap membuat mamil bingung di awal kehamilan, “Siapakah dokter obgin yang akan saya pilih?” Tak jarang juga, mamil malah semakin bingung setelah meminta atau mendapatkan banyak rekomendasi dari kerabat yang sudah terlebih dahulu hamil.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Ada yang bilang dokter A bagus, ada pula yang bilang kalau dokter B lebih bagus. Jadi, siapa yang akan Mama pilih, ya? Perlu Mama pahami, memilih dokter obgin sama halnya seperti memilih “jodoh”, yang terbaik bagi orang lain belum tentu terbaik bagi Mama. Nah, untuk membantu Mama menemukan dokter obgin yang tepat, dr. Budi Santoso, SpOG, FMAS, memberikan beberapa pertimbangan: U Dokter obgin yang menjalankan prinsip-prinsip kebidanan.

Salah satunya, memberikan informasi yang jujur kepada pasien, baik tentang kesehatan ibu maupun janin. Misalnya saja, saat terjadi komplikasi, seperti bayi terlilit tali pusat, namun kelahiran masih mungkin dilakukan secara normal, maka dokter obgin seharusnya mendukung pasien untuk bisa melahirkan secara normal. Jadi, bila kelahiran normal adalah cara yang benar-benar ingin Mama tempuh, pilihlah dokter obgin dengan “predikat” pro-normal, sementara bedah sesar hanya ia gunakan sebagai pilihan terakhir. U

Komunikatif. Maksudnya, mau menjawab pertanyaan dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pasien. Padatnya jadwal sangat mungkin membuat dokter terburu-buru dalam melayani pasien, sehingga mamil tak mendapatkan informasi lengkap selain hasil USG. Padahal, sebagai pasien, mamil berhak mendapatkan informasi ataupun masukan yang lengkap tentang kesehatan. U Memiliki jam praktik full time. Mama akan lebih mudah saat ingin bertemu dengan dokter tersebut, terlebih dalam kondisi darurat.

Bila dokter hanya praktik beberapa kali dalam seminggu, berlangsung hanya s jam, dan jadwalnya terbagi di rumah sakit lain, ditakutkan memiliki keterbatasan jadwal saat mamil membutuhkannya segera. Dengan memiliki jam praktik full time, bisa menghindari risiko jadwal berbenturan. Misalnya, saat pembukaan Mama sudah lengkap, namun dokter masih menangani pasien di rumah sakit lain. Sebaiknya mamil memikirkan risiko ini sejak awal.

Sumber : https://ausbildung.co.id/