Aksi 212 Sebagai Faktor Penentu Bag2

Namun akhirnya kubu Prabowo tidak memilih Somad, Salim, ataupun ulama lainnya, melainkan Sandiaga. Tanpa disadari, rupanya kubu Jokowi juga melihat politik aliran sebagai faktor penentu. Sambil meredam keinginan Cak Imin, yang ingin menjadi calon wakil presiden, Jokowi mengatasnamakan wakil dari unsur Nahdlatul Ulama (NU), dengan “ancaman” keluar dari koalisi kalau tidak dipenuhi, dengan memutuskan Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya.

Ini akhirnya diterima juga oleh Cak Imin karena Ma’ruf adalah Rais ‘Aam NU. Partai-partai pengusung Jokowi juga menyetujuinya. Tapi keputusan ini bukan tanpa risiko. Berikut ini permasalahan yang bisa timbul. Pertama, menenangkan para fan Ahok, yang disebut Ahoker, karena selama ini mereka berpendapat Ma’ruf adalah penyebab Ahok turun dari jabatannya dan dipenjara. Kedua, Ma’ruf sudah berusia 75 tahun dan kondisinya tidak seprima JK. Salah satu foto yang beredar menunjukkan bagaimana Jokowi menggandeng Ma’ruf dan, meskipun Jokowi tersenyum lebar, Ma’ruf bahkan lebih mirip orang yang sulit berjalan.

Perlu menjadi perhatian bagaimana kalau nantinya dia tidak lolos uji kesehatan? Apakah Jokowi dan partaipartai pendukungnya bisa menggantinya dengan calon wakil presiden baru? Apakah tidak muncul keributan baru? Ketiga, meskipun pernah menduduki jabatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Ma’ruf tidak pernah mengepalai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan birokrasi ataupun pemerintahan. Beberapa tugas presiden nanti didelegasikan kepada wakil presiden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *