Demam Lada Dipicu Harga Bag4

Berbeda dengan Selvi, Dyah Manohara memprediksi harga lada tidak akan terjun bebas. Sebab, puncak kenaikan harga su dah terjadi pada 2015. Harga sekarang, menurut dia, sudah relatif ?at. Direktur Eksekutif IPC W.D.L. Gunaratne mengatakan permintaan pasar lada dunia meningkat pesat. Hal itu didorong adanya perubahan tren konsumen dunia yang beralih ke natural dan organik. Perisa buatan yang mengandung bahan kimia mulai ditinggalkan. ”Ini peluang besar untuk negara-negara produsen, terutama Indonesia,” kata warga negara Sri Lanka itu.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Tjahja Widayanti mengatakan permintaan lada dunia rata-rata naik 3,3 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Pada 2015, permintaan lada di pasar internasional mencapai 390.200 ton atau senilai US$ 3,4 miliar. Amerika Serikat merupakan importir terbesar dengan pangsa 20,6 persen. Meski menjadi produsen, Indonesia juga mengimpor lada 1.400 ton per tahun.

Tjahja mengatakan Indonesia merupakan negara penghasil lada terbesar kedua di dunia. Pada 2013, produksi lada Indonesia mencapai 91 ribu ton. Angka itu turun menjadi 88.300 ton pada 2015. Sebanyak 55 persen produksi lada Indonesia diekspor. Meski luas tanam bertambah, penurunan produksi ini diduga akibat hujan yang turun sepanjang tahun sehingga pembungaan gagal. ”Akibat turunnya produksi, harga naik sekitar 13,5 persen per tahun,” ujarnya.

Indonesia memiliki potensi besar karena luas lahan ladanya merupakan yang terbesar di dunia, yakni 178 ribu hektare. Sayangnya, produktivitas Indonesia hanya 0,5 ton per hektare. Bandingkan dengan Vietnam, yang mencapai 3,2 ton per hektare. Gunaratne menilai rendahnya produktivitas lada di Indonesia lantaran petani belum menganggapnya sebagai komoditas utama. Kebanyakan kebun lada diusahakan ala kadarnya, bahkan boleh dibilang tanpa pemupukan. ”Lada Indonesia adalah lada organik secara tidak disengaja,” kata Gunaratne. Sayangnya, tidak ada yang disertifkasi sehingga harganya dihitung sama saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *