Eksplor Asi Sunyi Anggi Noen

Sangat mudah memilih Yosep Anggi Noen sebagai sutra dara Indonesia yang memiliki pencapaian tertinggi tahun ini. Arahannya dalam film Istirahatlah Kata-kata (Solo, Solitude) sangat matang dan efektif untuk menginterpretasikan satu penggalan masa dari hidup seorang tokoh yang telah menjadi bagian kuat dari sejarah reformasi Indonesia, seniman aktivis Wiji Thukul.

Mengangkat kisah hidup seorang tokoh penting adalah kesempatan yang seksi bagi seorang pembuat flm karena hidup dan karakter para tokoh yang menjadi dasar cerita biasanya menarik. Tapi sering kali sineas, terutama di Indonesia, terjebak dalam kecenderungan menjadikan tokoh tersebut sebagai kultus individu, sehingga karakter tokoh itu menjadi tidak realistis.

Dari masa hidup Wiji Thukul yang lahir pada 1963 di tengah keprihatinan sampai hilangnya bersama belasan aktivis lain pada 1998, Yosep Anggi, yang juga menulis skenario flm ini, memilih periode persembunyian Thukul di Pontianak pada 1996-1997 sebagai materi cerita. ”Dari riset yang saya lakukan, saya berkesimpulan justru di periode ini suasana emosi Wiji Thukul paling kompleks,” kata Anggi.

Dia juga menambahkan bahwa pada masa pelarian di Kalimantan, selain sikapnya yang waswas setelah menjadi buron, Thukul sering marah karena merasa tersingkirkan dari pergerakan di Jakarta. Dalam flm Istirahatlah Kata-kata juga terlihat Thukul menemukan pemahaman baru tentang dirinya sendiri di lingkungan yang asing.

Anggi memilih membenturkan kompleksitas karakter dan situasi politik saat itu dengan pendekatan sinema yang rendah hati. Ia tidak melibatkan adeganadegan kolosal Indonesia yang bergejolak, atau adegan meriah Thukul yang membacakan puisi-puisinya dengan karismatis. Kalaupun ada beberapa puisi Thukul yang dimasukkan ke flm, semuanya ditampilkan lewat narasi voice-over. Hasilnya adalah sebuah flm yang kontemplatif dan sunyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *