cara menyapih anak

Bagaimana Cara Menyapih Anak Yang Benar Dan Efektif?

Cara Menyapih Anak – Memiliki bayi menjadi dambaan semua pasangan yang telah menikah. Namun tantangan selanjutnya yang harus dihadapi para ibu adalah menyapih atau menghentikan anak dari menyusu pada payudara ibunya, lalu kapan bayi harus disapih?

Waktu menyapih biasanya ditentukan oleh masing – masing ibu. Namun sesuai rekomendasi dari WHO dan Kemenkes Republik Indonesia, bayi mendapatkan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan dan umumnya bayi menyusu pada ibunya dengan didampingi makanan pendamping ASI (MPASI) hingga bayi berusia 2 tahun .

Baca Juga: Manfaat Catering Makanan Sehat

Kebanyakan ibu pasti tidak tega saat mulai menyapih anaknya karena tiap anak minta ASI, ibu harus memutar otak untuk mengalihkan perhatian si anak. Biasanya anak yang tidak segera mendapatkan apa yang mereka inginkan sudah pasti akan mengeluarkan senjata berupa rengekan, tangisan maupun jeritan.

Nah pada saat anak sudah menangis dan menjerit dengan histeris inilah pastinya timbul rasa tidak tega pada ibunya. Hal inilah yang sering dialami oleh para ibu yang memiliki buah hati.

Bagaimana Cara Menyapih Anak Yang Benar Dan Efektif?

Ibu mungkin sering mendengar berbagai macam cara menyapih anak yang telah dilakukan ibu – ibu lainnya. Beberapa cara menyapih anak diantaranya ada yang menggunakan metode plester, lipstik maupun brotowali.

Tiap – tiap ibu memiliki cara berbeda – beda untuk menyapih anaknya. Cara menyapih anak dengan menggunakan metode lipstik atau mewarnai payudara dengan warna merah seakan – akan payudara ibu sedang sakit, biasanya hanya “mempan” sebentar untuk anak. Anak akan rewel lagi ketika ingin menyusu. Begitu pula pemberian plester dan brotowali pada payudara.

Cara – cara menyapih anak tersebut hasilnya bisa berbeda – beda tiap orang. Cara tersebut bisa berhasil untuk beberapa orang tapi juga gagal dilakukan sebagian orang lainnya. Mengingat karakter tiap anak berbeda, maka cara tersebut bisa berhasil dan juga bisa gagal. Nah, ibu bisa mencoba cara menyapih anak yang telah kami rangkum berikut ini.

1. Mengenali tanda – tanda anak bisa disapih

Tiap anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda – beda. Oleh karena itu ibu harus lebih peka dan tahu kapan anak menunjukkan tanda – tanda anak bisa disapih. Beberapa tanda ini diantaranya :

– Anak sering rewel ketika menyusu

– Merasa kurang puas saat menyusu ASI ibunya

– Menghisap ASI tapi hanya sebentar – sebentar

– Ketika menyusu tidak bisa diam atau hanya bermain – main dengan puting ibunya

– Anak lebih tertarik saat minum dari gelas atau botol

2. Menentukan waktu yang tepat

Setelah ibu mengetahui tanda – tanda anak dapat disapih, maka ibu bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menyapih anaknya. Penentuan waktu yang tepat ini penting agar ibu dan anak sama – sama siap melakukan proses penyapihan.

Hal ini juga dimaksudkan agar anak tidak kaget dan bisa menerima proses menyapih ini secara alami. Walaupun usia 2 tahun direkomendasikan sebagai usia yang tepat untuk menyapih anak, namun ibu bisa memutuskan kapan waktu yang tepat anak ibu bisa disapih.

3. Secara perlahan – lahan mengurangi frekuensi menyusui

Proses menyapih tidak bisa dilakukan dengan menghentikan menyusui anak secara langsung dan lama. Proses ini membutuhkan cara yang perlahan – lahan agar anak bisa menerima. Cara menyapih anak yang tepat adalah dengan mengurangi frekuensi menyusui secara bertahap.

Jika sehari anak menyusu 5 kali, maka secara perlahan – lahan kurangilah menjadi 4 kali sehari atau bisa juga mengurangi frekuensi menyusui saat siang hari. Agar anak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup maka ibu bisa memberikan makanan pendamping ASI pada anak.

4. Membuat MPASI dengan rasa yang menarik

Rasa MPASI yang berbeda dengan ASI akan membuat anak tertarik dan teralih perhatiannya. Jika anak sudah bisa duduk sendiri dan menegakkan kepala serta tumbuh gigi, maka anak sudah bisa diberi MPASI.

Pemberian MPASI ini bisa dilakukan pada waktu makan pagi, makan siang dan makan malam. Selain itu, ibu juga bisa memberikan camilan setelah anak bangun tidur. Biasanya anak yang merasa kenyang, keinginan untuk menyusu menjadi berkurang.

5. Gunakan metode komunikasi

Metode komunikasi harus mulai dilakukan dengan cara memberikan pengertian mengenai perubahan kebiasaan menyusu anak. Dengan memberikan pengertian bahwa anak sudah mulai tumbuh besar dan kebiasaan menyusu tidak lagi baik untuknya serta memberikan contoh anak yang sudah besar tidak lagi menyusu ibunya, maka anak pun secara perlahan – lahan akan mengerti.

6. Ibu harus membiasakan diri bangun lebih pagi

Ibu yang tidur bersama anaknya, sebaiknya membiasakan diri untuk bangun lebih pagi sebelum anaknya bangun. Setelah ibu bangun, segeralah membuat sarapan untuk anak.

Sehingga saat anak bangun dan merasa lapar, ibu bisa memberikan anak sarapan dengan MPASI. Hal itu akan membuat anak kenyang dan lupa untuk menyusu. Cara ini dilakukan secara perlahan dan rutin sehingga anak menjadi terbiasa.

7. Menggendong dengan cara berbeda

Cara menyapih anak ini dimaksudkan untuk menghindari anak rewel ketika minta menyusu ASI. Ibu bisa merubah cara menggendong dengan posisi menggendong yang berbeda dari biasanya.

8. Menggunakan berbagai hal yang bisa mengalihkan anak

Ibu perlu melakukan hal – hal yang bisa mengalihkan perhatian anak, misalnya dengan memberikan susu dari botol secara bertahap lalu membiasakan anak minum menggunakan gelas.

Cara menyapih anak ini dilakukan secara perlahan dan bertahap agar anak lama – lama terbiasa dan lupa dengan kebiasaan menyusu pada ibunya.

Selain melakukan hal tersebut, ibu juga bisa mengalihkan perhatian anak dengan membiarkannya bermain dengan teman – temannya atau bisa juga dengan memberikan mainan kesukaan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *